{"id":234,"date":"2025-07-22T00:55:12","date_gmt":"2025-07-22T00:55:12","guid":{"rendered":"https:\/\/sumbersuara.id\/?p=234"},"modified":"2025-07-22T01:01:08","modified_gmt":"2025-07-22T01:01:08","slug":"kota-bekasi-kota-toleran-pesan-kesbangpol-nesan-sudjana-untuk-jaga-keberagaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/2025\/07\/22\/kota-bekasi-kota-toleran-pesan-kesbangpol-nesan-sudjana-untuk-jaga-keberagaman\/","title":{"rendered":"Kota Bekasi Kota Toleran Pesan Kesbangpol Nesan Sudjana untuk Jaga Keberagaman"},"content":{"rendered":"<p>SUMBER BERITA, Kota Bekasi \u2013 Kota Bekasi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan tingkat keberagaman tertinggi di Indonesia. Meski dihuni oleh masyarakat lintas suku, agama, ras, dan golongan, suasana kehidupan sosial di kota ini tetap harmonis.<\/p>\n<p>Predikat ini bukan isapan jempol. Beberapa tahun silam, Kota Bekasi bahkan sempat meraih gelar kota paling toleran nomor dua di Indonesia setelah Singkawang, Kalimantan Barat.<\/p>\n<p>Keberhasilan tersebut, menurut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bekasi, Nesan Sudjana, merupakan hasil kerja kolektif antara pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan media massa.<\/p>\n<p>\u201cPeran Kesbangpol sangat strategis dalam menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa di daerah. Tapi kami tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan semua pihak, terutama media massa,\u201d ujar Nesan dalam Podcast Asistensi Media Nasional (AsMEN) yang digelar pada Senin (21\/7\/2025).<\/p>\n<p>Empat Tugas Utama Kesbangpol<\/p>\n<p>Dalam kesempatan itu, Nesan menjelaskan empat tugas pokok dan fungsi Kesbangpol:<\/p>\n<p>1. Menjaga kesatuan dan keutuhan bangsa<\/p>\n<p>2. Menjaga stabilitas politik dan keamanan daerah<\/p>\n<p>3. Melakukan pembinaan wawasan kebangsaan<\/p>\n<p>4. Mengawasi organisasi kemasyarakatan dan partai politik<\/p>\n<p>Menurut Nesan, salah satu kunci menciptakan kota yang harmonis adalah literasi publik yang sehat. \u201cMedia memiliki peran vital untuk menghadirkan informasi yang berimbang dan bebas dari hoaks,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Soal Insiden Viral Komunikasi adalah Solusi<\/p>\n<p>Nesan juga menyinggung insiden viral terkait dugaan pelarangan ibadah oleh oknum ASN terhadap jemaat gereja di Bekasi. Video tersebut sempat memantik reaksi publik.<\/p>\n<p>Namun, ia menegaskan bahwa kejadian itu hanyalah kesalahpahaman yang sudah diselesaikan secara baik oleh kedua pihak.<\/p>\n<p>\u201cSayangnya, informasi yang beredar di media sosial kerap sepotong-sepotong. Kalau komunikasi antara semua pihak berjalan baik, insiden seperti itu bisa dicegah,\u201d jelas Nesan.<\/p>\n<p>Imbas insiden ini sempat membuat indeks kerukunan Kota Bekasi menurun. Namun Nesan optimis, dengan dukungan penuh Wali Kota Tri Adhianto dan Wakil Wali Kota Harris Bobihoe, Bekasi bisa kembali menempati posisi atas sebagai kota paling toleran di Indonesia.<\/p>\n<p>Menuju Kota Harmoni Indonesia<\/p>\n<p>Nesan menargetkan Kota Bekasi bisa meraih predikat Kota Harmoni Indonesia. Ia pun mengajak masyarakat untuk memperkuat nilai kebersamaan.<\/p>\n<p>\u201cKuncinya adalah silih asah, silih asih, dan silih asuh. Keberagaman bukan hambatan, tapi berkah yang harus kita rawat bersama,\u201d tandasnya.<\/p>\n<p>Dengan masyarakat multikultural yang hidup berdampingan secara damai, Kota Bekasi tidak hanya menjadi contoh bagi kota lain, tetapi juga simbol bahwa toleransi dan persatuan bisa menjadi fondasi kuat pembangunan bangsa.<\/p>\n<p>Wartawan : kus<br \/>\nEditor : Kus<br \/>\nSumber berita : liputan<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SUMBER BERITA, Kota Bekasi \u2013 Kota Bekasi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah dengan tingkat keberagaman tertinggi di Indonesia. Meski dihuni oleh masyarakat lintas suku, agama, ras, dan golongan, suasana kehidupan sosial di kota ini tetap harmonis. Predikat ini bukan isapan jempol. Beberapa tahun silam, Kota Bekasi bahkan sempat meraih gelar kota paling toleran<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":240,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_robots_primary_cat":"none","_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-234","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-uncategorized"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=234"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":239,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/234\/revisions\/239"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/240"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=234"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=234"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=234"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}