{"id":634,"date":"2025-09-19T08:58:45","date_gmt":"2025-09-19T08:58:45","guid":{"rendered":"https:\/\/sumbersuara.id\/?p=634"},"modified":"2025-09-19T08:58:45","modified_gmt":"2025-09-19T08:58:45","slug":"qolbu-hasanah-indonesia-hadirkan-harapan-baru-untuk-naya-anak-yatim-di-bekasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/2025\/09\/19\/qolbu-hasanah-indonesia-hadirkan-harapan-baru-untuk-naya-anak-yatim-di-bekasi\/","title":{"rendered":"Qolbu Hasanah Indonesia Hadirkan Harapan Baru untuk Naya, Anak Yatim di Bekasi"},"content":{"rendered":"<p>SUMBER SUARA, Bekasi, 19 September 2025 \u2013 Kehidupan Naya, seorang anak yatim di Bekasi, sempat dipenuhi kesedihan dan ketidakpastian setelah ayahnya meninggal dunia. Bersama sang ibu, Naya harus berpindah-pindah kontrakan karena kesulitan biaya hidup. Kondisi ini berdampak langsung pada pendidikannya, hingga ia beberapa kali terpaksa berhenti sekolah.<\/p>\n<p>Namun, secercah harapan hadir ketika Yayasan Qolbu Hasanah Indonesia turun tangan melalui program kepedulian anak yatim dan dhuafa. Yayasan ini memberikan tempat tinggal yang layak dan aman bagi Naya serta keluarganya. Berkat dukungan tersebut, kini Naya tak lagi harus berpindah-pindah rumah dan bisa kembali bersekolah di bangku sekolah dasar.<\/p>\n<p><img alt=\"\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-637\" src=\"http:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-300x135.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"135\" srcset=\"https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-300x135.jpg 300w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-150x68.jpg 150w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-450x203.jpg 450w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-1200x540.jpg 1200w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-768x346.jpg 768w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-1024x461.jpg 1024w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-1536x692.jpg 1536w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-696x313.jpg 696w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000-1068x481.jpg 1068w, https:\/\/sumbersuara.id\/wp-content\/uploads\/2025\/09\/IMG-20250919-WA0000.jpg 1599w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p>Wajah ceria Naya kembali terlihat saat menceritakan cita-citanya. \u201cAku ingin jadi guru supaya bisa membantu anak-anak lain yang ingin sekolah,\u201d ungkapnya dengan penuh harapan.<\/p>\n<p>&#8220;Ketua Yayasan Qolbu Hasanah Indonesia menyampaikan bahwa bantuan ini adalah wujud komitmen dalam memperjuangkan masa depan anak-anak yatim.<\/p>\n<p>&#8220;Kami ingin memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan serta hidup di tempat yang layak,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Kisah Naya menjadi bukti bahwa kepedulian bersama mampu mengubah nasib seorang anak. Semoga langkah Qolbu Hasanah Indonesia ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk terlibat dalam program kemanusiaan demi masa depan anak-anak bangsa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SUMBER SUARA, Bekasi, 19 September 2025 \u2013 Kehidupan Naya, seorang anak yatim di Bekasi, sempat dipenuhi kesedihan dan ketidakpastian setelah ayahnya meninggal dunia. Bersama sang ibu, Naya harus berpindah-pindah kontrakan karena kesulitan biaya hidup. Kondisi ini berdampak langsung pada pendidikannya, hingga ia beberapa kali terpaksa berhenti sekolah. Namun, secercah harapan hadir ketika Yayasan Qolbu Hasanah<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":638,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_seopress_robots_primary_cat":"6","_seopress_titles_title":"","_seopress_titles_desc":"","_seopress_robots_index":"","footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-634","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-uncategorized"},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/634","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=634"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/634\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":639,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/634\/revisions\/639"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/638"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=634"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=634"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sumbersuara.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=634"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}