SUMBERSUARA, Jakarta -IHSG diperkirakan masih berada dalam tekanan pada awal pekan inisetelah ditutup di level 6.956 pada akhir April 2026, sekaligus menembus batas psikologis 7.000. Tekanan jual masih dominan, dengan potensi pengujian support di area 6.917. Jika level ini gagal bertahan, koreksi lanjutan berpeluang menuju 6.684.
Dari sisi makro, pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh Rp17.378 per USD menjadi sentimen negatif utama. Kondisi ini mendorong investor asing melakukan aksi jual untuk mengamankan aset.
Selain itu, pasar menantikan rilis data inflasi April oleh BPS pada 4 Mei, dengan proyeksi inflasi tahunan sekitar 3,48%. Jika realisasi lebih tinggi dari ekspektasi, tekanan terhadap pasar saham berpotensi meningkat.
Data PMI Manufaktur juga menjadi perhatian penting sebagai indikator kesehatan sektor industri. Di sisi global, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan ketidakpastian dan risk premium bagi pasar berkembang seperti Indonesia.
Di tengah kondisi ini, investor disarankan menerapkan strategi hati-hati. Pendekatan wait and see dinilai bijak sambil menunggu kejelasan arah pasar dan stabilisasi Rupiah. Saham sektor defensif dapat menjadi pilihan karena cenderung lebih tahan terhadap tekanan suku bunga dan fluktuasi nilai tukar.
Meski IHSG berada di area oversold yang membuka peluang technical rebound jangka pendek, tren utama masih menunjukkan kecenderungan melemah. Oleh karena itu, disiplin manajemen risiko tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi volatilitas pasar saat ini.***
